BAB I
PENDAHULUAN
1. latar belakang masalah
Hasil belajar dari setiap pembelajar berbeda hal itu
biasaya disebabkan oleh kemampuan mereka sendiri seperti membaca, menulis,
mengingat dll. Perbedaan kemampuan penguasaan tersebut memiliki keterkaitan
dengan kemampuan guru di dalam menyampaikan pembelajaran pendekatan dan
strategi yang digunakan, sarana dan prasarana belajar, lingkungan, motivasi
belajar siswa.
Dalam
sejarah penyelenggaraan pendidikan di negara kita, tercatat sebanyak lima kali
perubahan kurikulum pada tahun 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 dan 2006 pada
pendidikan dasar dan menengah yang berbarengan dengan perubahan strategi
belajar mengajar hal itu yang dapat mempengaruhi prosese belajar mengajar.[1]
Suatu Penerapan strategi pembelajaran tertentu harus memperhatikan kebutuhan,
karakteristik siswa, tujuan, kemampuan dasar, dan kesukaan belajar memberi
kontribusi besar terhadap pemerolehan hasil belajar yang baik. Siswa yang
memiliki motivasi belajar yang tinggi tentu berpengaruh kepada tingginya hasil
belajar. Sebaliknya, siswa yang memiliki motivasi yang rendah berpengaruh juga
pada rendahnya hasil belajar.
2. Rumasan maslah
Berdasarkan penjelasan latar belakang yang
dirumuskan diatas, berikut ini akan diuraikan tentang rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Pengertian Hasil belajar?
2. Peran Strategi Belajar?
3. Peran Motivasi belajar?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Hasil belajar
Bebrapa
definisi tentang belajar telah banyak
dikemukakan oleh para ahli. belajar adalah pengembangan pengetahuan,
keterampilan dan sikap baru sebagai interaksi individu dengan informasi dan
lingkungan. Lebih jauh Driscoll mengkaji definisi dari dua asumsi;
pertama, belajar dipandang sebagai
suatu perubahan dalam performa manusia dan
kedua, perubahan itu terjadi sebagai
hasil dari pengalaman siswa dan interaksinya dengan lingkungan. Belajar juga
dipandang sebagai perubahan dalam watak manusia atau kemampuan yang berlangsung
selama satu masa yang bukan semata-mata disebakan oleh proses pertumbuhan.[2]
Selanjutnya,
yang dimaksud dengan hasil belajar adalah tindakan konkrit yang terdiri atas
demonstrasi pengetahuan, keterampilan atau nilai. Sejalan dengan definisi ini,
skagitwatershed mendefinisikan hasil belajar dengan berpegang pada tiga kawasan taksonomi Bloom,[3]
yakni
aspek
kognisi yang merujuk pada keterampilan mental atau pengetahuan, afektif yang
mengarak pada pertumbuhan daerah perasaan dan emosional atau disebut dengan
sikap, dan psikomotorik yang merujuk pada keterampilan fisik atau dikenal
dengan keterampilan. Kawasan Kognisi terbagi ke dalam enam kategori yang
ditandai dengan kata kunci atau kata kerja operasional;
(1) Pengetahuan
yang merupakan cara untuk mengingat data dan informasi. Kata kerja
operasionalnya mencakup mendefinisikan, menggambarkan, nama/label, menunjukkan,
mengidentifikasi, memberi menyusun daftar, memilih, menyatakan, membuat
outline.
(2) Pemahaman yang merujuk
pada memahami fakta-fakta, memahami
prinsip-
prinsip, menafsirkan dan bahan tertulis, menafsirkan
akibat. Chart dan kata grafik, kerja menerjemahkan, memperkirakan Sedangkan,
operasionalnya adalah mengubah, mempertahankan, menjelaskan, memberikan contoh,
meringkas, memprediksi, menyimpulkan, menyalin ulang, dan menggeneralisasl
memperluas.
(3)
Penerapan yang merujuk pada menerapkan konsep dan prinsip pada situasi baru,
memecahkan problem, mengkonstruksi chart dan grafik, menerapkan hukum &
teori ke dunia praktis, mendemonstrasikan pengalaman metode dan prosedur yang
benar. Sedangkan kata kuncinya adalah mengubah, menjumlah; mendemonstrasikan,
menemukan, memodifikasi mengoperasikan, menyiapkan, menunjukkan, menggunakan,
menghubungkan, menghasilkan, dan memprediksi.
(4) Analisis yang terdiri atas mengenali
asumsi tersirat, mengenali kesalahan nalar membedakan antara fakta dan
penafsiran, menilai relefansi data, menganalisis struktur kerja (seni, musik,
tulisan). Kata kerja operasionalnya adalah memilah-milah, membuat diagram,
menunjukkan perbedaan, menyimpulkan, memilih, membandingkan, membuat ilustrasi,
menyisihkan, dan mengklasifikasi.
(5)
Sintesis yang mencakup menyusun tema tulisan secara baik, menyampaikan pidato
secara baik, menulis cerita pendek yang kreatif , menyusun (proposal, rencana
kerja dan skema), mengintegrasikan hasil pembelajaran dalam problem solving.
Kata kerja operasionalnya adalah membuat kategorisasi, mengombinasikan,
menghimpun, menyusun, merancang, menghasilkan, mengorganisasikan, memperbaiki,
merekonstruksi, memodifikasi,dan
menghubungkan.
(6) Evaluasi yang terdiri atas menetapkan
konsistensi logis dari bahan tertulis, menetapkan kelayakan berdasarkan data,
menetapkan nilai kerja berdasarkan kriteria internal, menetapkan nilai kerja
berdasarkan standar eksternal yang ekselen. Kata kerja operasionalnya mencakup
membandingkan, menyimpulkan, mengontraskan, menjelaskan, menafsirkan,
menghargai, mendukung, menjustifikasi, mengkritik, mendukung, menggambarkan, dan
menyisihkan.
Kawasan
kedua, yaitu afeksi yang diri atas lima
kategori, yakni
(1) Penerimaan yang mencakup mendengarkan dengan
perhatian, menunjukkan
kesadaran tentang pentingnya belajar , menunjukkan
sensitifitas pada problem social, menerima perbedaan ras dan kultur, mengikuti
aktivitas belajar. Sedangkan kata kerja operasionalnya memberikan, adalah
bertanya, memilih, menjawab, menggambarkan, mengikuti, menempatkan, menunjukkan,
duduk dengan tegak, menggunakan, memilah, memberi nama, mengidentifikasi,
memegang.
(2)
Partisipasi yang mencakup mematuhi peraturan sekolah, menyelesaikan tugas
rumah, berpartisipasi pada diskusi pelajaran, melakukan secara sukarela,
menunjukkan minat, menolong orang lain dengan senang. Kata kerja operasional
kategori partisipasi adalah menjawab, menolong, mendiskusikan, memberi salam,
membantu, menyelenggarakan, melakukan pelatihan, membaca, menceritakan,
memilih, dan menampilkan.
(3) Penentuan sikap mencakup
mendemostrasikan keyakinan dalam proses demokrasi, menghargai literatur yang
baik, menghargai peran sains dalam kehidupan, menunjukkan perhatian terhadap
kesejahteraan orang lain, mendemonstrasikan sikap problem solving,
mendemonstrasikan komitmen terhadap perbaikan sosial. Kata kerja operasionalnya
terdiri atas menyempurnakan, menggambarkan, menjelaskan, mengikuti, mengambil
inisiatif, membentuk, mengundang, bergabung, menyampaikan usul, membedakan,
melaporkan, berbagi rasa, belajar, dan bekerja.
(4)
Organisasi yang mencakup mengakui perlunya keseimbangan antara kebebasan dan
tanggung jawab mengakui peran perencanaan yang sistematis dalam problem
solving, bertanggung jawab terhadap tindakan, memformulasikan perencanaan hidup
sesuai dengan kemampuan, minat, dan keyakinan. Kata kerja operasionalkategori
organisasi adalah menganut, mengatur, mengubah (berubah), mengkombinasikan,
membandingkan, menyempurnakan, mempertahankan, menjelaskan, mengidentifikasi,
menghubungkan, menyiapkan, mensintesiskan, mengorganisasikan, mengintegrasikan,
(5)
pembentukan pola hidup mencakup menunjukkan kesadaran diri, mendemonstrasikan
kerja mandiri, menggunakan pendekatan objektif dalam problem solving,
memelihara kebiasaan hidup sehat, menerapkan pola kerjasama dalam kegiatan
kelompok. Kata kerja operasionalnya adalah bertindak,membedakan, menunjukkan,
mempengaruhi, memodifikasi, melakukan, berlatih, menanyakan, merevisi,
melayani,
menyelesaikan (problem), menggunakan,
memeriksa, mengusulkan.
Kawasan
taksonomi ketiga adalah psikomotorik yang mencakup tujuh kategori;
(1)
Persepsi terdiri atas mengenal kegagalan fungsi melalui suara mesin,
menghubungkan musik dengan langkah tarian tertentu, mnghubungkan rasa makanan
dengan bumbu yang diperlukan. Kata kerja operasional adalah memilih,
menggambarkan, mendeteksi, membedakan, mengidentifikasikan, mengisolasi, menghubungkan,
memilah, dan memisahkan.
(2)
Kesiapan terdiri atas mengetahui urutan langkah, mendemonstrasikan posisi tubuh
yang tepat untuk memukul bola, memperlihatkan hasrat untuk mengetik dengan
efisien. Kata kerja operasionalnya adalah memulai, menjelaskan, menggerakkan,
merespon, memberkan reaksi, mempertunjukkan, mengawali, dan meneruskan.
(3)
Gerakan terbimbing mencakup melakukan ayunan pukulan golf sebagaimana
didemonstrasikan, meniru, menentukan urutan yang terbaik untuk menyiapkan
makanan. Kata kerja operasionalnya adalah menyusun, mempertunjukkan,
memperbaiki, mengukar, mengikuti, memasang, membongkar, mengukur, dan membuat
sketsa.
(4)
Gerakan terbiasa yang terdiri atas menulis dengan lancer dan terang,
mendemonstrasikan gerakan dansa yang sederhana, dan merangkai alat
laboratorium. Kata kerja operasional adalah daftar kata yang digunakan sama
dengan daftar kata gerakan terbimbing yakni menyusun, mempertunjukkan,
memperbaiki, mengukar, mengikuti, memasang, membongkar, mengukur, dan membuat
sketsa.
(5)
Gerakan kompleks yang merujuk pada berketerarnpilan secara lancar, luwes, dan sempurna.
Kata kerja operasionalnya adalah menyusun, mempertunjukkan, memperbaiki,
mengukar, mengikuti, memasang, membongkar, mengukur, dan membuat sketsa.
(6)
Penyesuaian pola gerakan mencakup menyesuaikan permainantenis untuk mengcounter
serangan musuh, dan menyesuaikan diri. Kata kerja operasionalnya adalah
mengadaptasi, merubah, mengatur ulang, merivisi, membuat variasi,
mengorganisasi ulang, dan
(7)
Kreativitas mencakup menciptakan gerakan tarian, menciptakan komposisi
musik, merancang sesuatu yang baru.
Kata kerja
operasionalnya adalah mengatur, mengombinasikan, menyusun, mengonstruksi,
merancang, dan menciptakan. Khusus pada kawasan kognisi, terdapat revisi yang
dilakukan oleh Anderson
dan Kratwohl pada kategori synthesis yang diganti dengan evaluasi dan
ditambahkan menciptakan pada tingkat evaluasi.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan hasil
belajar adalah kemampuan memperoleh, memproses, dan memproduksi pelajaran sebagai
hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Kemampuan ini mencakup
kompetensi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis dan unjuk kerja
(performa) yang melibatkan aspek-aspek sosial dalam berinteraksi dengan orang lain.
Kemampuan memperoleh informasi merujuk
pada kawasan kognisi, memproses informasi yang diperoleh sebagai kawasan
afektif, dan memproduksi informasi sebagai kawasan psikomotorik[4].
2.
Peran Strategi Belajar
Strategi
belajar adalah teknik, metode, urutan kejadian, media dan peralatan lainnya
yang digunakan dalam membelajarkan siswa. strategi belajar merupakan tahapan
bagi pembelajar dalam menjadikan mereka agar aktif dan terlibat langsung dalam
proses pembelajaran. Tahap ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan
belajar yang tepat akan menghasilkan kemampuan belajar yang baik dan
meningkatkan percaya diri.[5]
Menurut
Oxford (1990:8), strategi belajar adalah suatu cara pembelajar untuk
memperoleh, penyimpanan percobaan, dan pemanfaatan akan informasi yang didapat.
Diitambah pula bahwa strategi belajar merupakan suatu aktifitas yang dapat
membuat peoses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih
menyenangkan, lebih terarah, lebih efektif, dan lebih mudah untuk digunakan
dalam situasi baru.[6]
Strategi
belajar juga dapat dideskripsikan sebagai komponen umum dari seperangkat materi
pembelajaran dan prosedur yang digunakan untuk memperoleh hasil belajar
tertentu. Sedangkan yang dimaksud komponen umum (general komponen) adalah suatu
kondisi belajar saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Kondisi belajar didambarkan
menjadi sembilan kejadian,[7]
yakni
1. Menarik perhatian
2. Menjelaskan tujuan belajar kepada siswa
3. Mengingatkan kembali siswa tentang pengetahuan prasyarat
4. Menyajikan materi rangsangan
5. Mempersiapka bibmbingan belajar
6. Menampilkan performa
7. Mempersiapkan umpan balik tentang perbaikan kinerja
8. Mengukur kinerja
9. Memperkuat ingatan
Lebih rinci dijelaskan bahwa kegiatan umum strategi
pembelajaran menyangkut kegiatan awal, isi tugas, partisipasi siswa dll. Dalam
hubungannya dengan strategi pembelajaran terdapat dua pendekatan yang sering
digunkan; pendekatan Induktif dan pendekatan Deduktif.[8]
a. Pendekatan Induktif
Pembelajaran Induktif disebut juga dengan pembelajaran inquiry dan discovery. Pembelajar inquiri berupaya mencari pengetahuan dengan
cara menyelidiki dan mengamati sumber baik yang berkaitan dengan upaya
pencarian melalui sumber digital dan jaringan meupun yang berkaitan denagan
sumber yang ada dikehidupan masnyarakat sehari-hari.
Proses metode induktif mengikuti lima langkah, yakni menggambarkan isi, mendefinisikan persoalan,
membuat menurut selera tertentu, mendiskusikan isi, dan mendiskusikan pilihan. Di
samping itu, yang dimaksudkan dengan strategi pembelajaran induktif adalah
suatu strategi yang memulai kegiatan pembelajaran dengan hal-hal yang sifatnya
khusus menuju sesuatu yang umum Proses
kegiatannya mencakup upaya sistematis untuk memperoleh pengetahuan melalui
penyelididkan dan penemuan..
b. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif adalah suatu pendekatan yang mendasarkan diri pada pandangan bahwa
presentasi dari konten yang terstruktur dapat menciptakan pendekatan yang
optimal
Pendekatan
deduktif disebut pula pendekatan langsung (direct instruction). Seperti
pengetahuan orang pada umumnya, proses metode induktif selalu berangkat dari
hal-hal yang sifatnya khusus menuju sesuatu yang sifatnya umum. Sebaliknya,
metode deduktif membangun sesuatu dari konsep umum menuju ke suatu yang khusus.
Dalam
hal ini Strategi pembelajaran merupakan suatu
komponen sistem pembelajaran yang mencakup kegiatan pendahuluan, penyajian,dan
kegiatan penutup.
Kegiatan
pendahuluan, mencakup gambaran singkat materi, relevansi, dan tujuan yang
dipadu dengan metode dan media pembelajaran, serta penggunaan waktu. sedangkan
Kegiatan penyajian mencakup uraian
materi, contoh, dan latihan yang diberikan plus penggunaan media, metode, dan pemanfaatan
waktu. Sementara itu, kegiatan penutup mencakup
tes formatif, umpan balik, dan tindak lanjut.
Di samping
itu yang dimaksud dengan strategi pembelajaran deduktif dalam adalah suatu strategi yang berangkat dari
hal-hal yang umum menuju sesuatu yang khusus. Guru dalam kegiatan
pembelajarannya mengawali dengan konsep, teori, dan generalisasi dan melanjutkannya
dengan contoh-contoh kongkrit. Sedangkan, Menurut Oxford Terdapat dua cara
dalam pemanfaatan strategi belajar yang pertama adalah strategi belajar
langsung dan strategi belajar tidak langsung.[9]
Strategi
belajar langsung melibatkan target belajar. Target belajar ini terbagi dalam
tiga strategi, yaitu strategi memori,
strategi kognisi, dan strategi kompensasi.. strategi memori atau pengingat
mencakup belajar bahasa, pemanfatan gambar-gambar
dalam belajar, dan termasuk didalamnya adalah
strategi belajar suara atau gerakan.
Strategi
kognisi adalah strategi yang penting dalam mempelajari pelajaran. Strategi ini
sangat bervariasi dari pengulangan sampai pada aktifitas merangkum. Para pembelajar sering tidak memahami pentingnya strategi
ini. Deangan kegiatan belajar menggunakan strategi ini , pembelajar akan lebih
memahamitentang pembelajaran baik secara tertulis maupun percakapan.
Strategi
komparasi sangatlah bermanfaat bagi pembelajar yang sedang belajar sedikit.
Misalnya. Dengan keterbatasan bahasa dan pengetahuan pada pelajaran bahasa,
siswa akan panic, tidak dapat bicara untuk memastikan kata yang tepat. Dengan
strategi kompensasi siswa dapat menggunakan strategi menerka kata atau tata
bahasa dan juga dapat menggunakan bantuan bahasa tubuh, menghindari topic yang
tidak dikuasai, dan juga dapat menggunakan persamaan kata.
Sementara
itu strategi secara tidak langdung juga memegang peranan penting dalam belajar.
Hal ini disebabkan adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan penbelajar pada
saat belajar. Faktor-faktor tersebut berhubunagn faktor metakognisi, efektif
atau perasaan belajar, dan faktor social pembelajar. Faktor-faktor ini menjadi
salah satu startegi belajar.
Strategi
metakognisi menekankan akan pentingnya pembelajaran untuk memusatkan kosentrasi
belajar siswa, menyusun dan merencanakan belajar, dan mengevaluasi cara
belajar. Terkadang, pembelajar sibuk dengan materi belajar saja tanpa menyadari
bahwa strategi belajarnya seharusnya dirubah atau diperbaiki dengan melihat
hasil kemajuan belajarnya. Dengan strategi ini, pembelajar akan menyadari bahwa
strategi belajarnya sudah tepat belum. Dalam hal ini pembelajar dapat
mengevaluaasi sendiri atau dapat berkonsultasi dengan guru atau mentor dalam
mengefaluasi hasil belajarnya.
Sedangkan
strategi efektif mencakup emosi, sikap, motifasi, dan nilai-nilai dalam proses
belajar. Terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh oleh siswa untuk mencapai
hasil memuaskan dalam hasil belajar.menurut Oxford terdapat tiga cara dalam memanfaatkan
strategi efektif ini dalam pembelajaran, yaitu dengan cara mengurangi kecemasan
dengan cara mendengarkan musik, tertawa (humor), meditasi setelah belajar dll.
Hal itu akan meningkatkan kepercayaan diri dengan peryataan- peryataan positif,
menghargai diri sensiri dalam belajar, mengatur suhu emosi sendiri dengan
berdiskusi bersama teman, keluarga dll ketika mempunyai masalah.
Dengan belajar strategi belajar langsung dan
tidak langsung, pembelajar akan dapat belajar dengan optimal dan dapat
berhasil.
3. Peran
Motivasi Belajar
Salah
satu teori motivasi yang banyak mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran di
berbagai belahan dunia adalah teori yang dikembangkan oleh Abraham Maslow yang
dikenal dengan teori Hirarki Kebutuhan.[10]
Menurut Cortland kaum Behaviorist percaya bahwa tingkah laku manusia dikontrol
oleh faktor lingkungan eksternal seperti kebutuhan dasar manusia yang
digambarkan sebagai berikut.[11]
Berdasarkan
pandangan Maslow tersebut di atas, motivasi dapat mencakup aspek fisiologi,
keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Aspek inilah yang mendorong motivasi seseorang
dalam melakukan berbagai kegiatan termasuk dalam belajar.
Keller justru mengatakan bahwa faktor
eksternal dan internal sama-sama berperan di dalam membangkitkan motivasi dan
siswa.[12]
Faktor eksternal adalah faktor yang timbul dari dalam individu sendiri tanpa
ada paksaan dorongan orng lain , tetapi atas dasar kemauan diri sendiri. Sumber
informasi eksternal adalah minat, kesenangan, dan kebutuhan yang berasal dari
diri siswa. Sedangkan, Faktor internal timbul
sebagai akibat dari luar individu apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau
paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswamau melakukan
sesuatu (belajar). Faktor ini sangat tergantung pada faktor laur sebagai
konskuensi prilaku.
Sementara
itu menurut Finegan (2004:560) terdapat dua macam motivasi pembelajaran dalam
belajar[13]. Pertama, motivasi pelengakap
(instrumental motivation) motivasi ini mendukung pembelajar dalam membantu
proses belajar dengan cara belajar, menulis dan mendengarkan materi
pembelajaran. Motivasi hampir dimiliki oleh setiap siswa karena motivasi ini
hanya memerlukan sedikit rangsangan dari luar untuk belajar. Kedua adalah motivasi keseluruhan
(integrative motivation). Motivasi ini sangat berbeda dengan motivasi yang
pertama dimana motivasi ini lebih kuat
bagi pembelajar untuk belajar. Hal itu dikarenakan pembelajar langsun turun
kelapangan untuk mempratekkan ilmu yang telah dipelajari. Mau tidak mau
pembelajar dihadapkan dengan masnyarakat yang menuntut siswa untuk dapat
berinteraksi dengan lingkungan.
Sedangkan, Dalam
ARCS model, motivasi dapat dikembangkan melalui unsur-unsur seperti akronim A
(Attention atau perhatian), R (Relevance atau relevan), C
(Confidencekepercayaan diri), S (satisfaction- kepuasan).[14]
Untuk lebih memahami model ARCS, berikut ini akan dijabarkan dalam kategori dan
subkategori:
1 Attention
Perhatian Membangunkan Persepsi: Apa yang saya
harus lakukan untuk membangkitkan minat mereka? Membangkitkan daya
Keingintahuan: Bagaimana saya menstimulus rasa keingintahuan mereka?
Variabilitas: Bagaimana saya menggunakan berbagai taktik untuk mempertahankan
perhatian mereka?
2 Relevance
Relevan
Orientasi Tujuan: Kesesuaian Motif: Bagaimana saya menemukan kebutuhan mereka?
Bagaimana dan kapan saya dapat menyiapkan siswa saya dengan pilihan tugas yang
cocok, memberi tanggungjawab, yang dapat mempengaruhi kemampuan matematik
mereka? Keterbiasaan: Bagaimana saya dapat merancang pembelajaran yang
berorientasi pada pengalaman?
3
Confidence
Kepercayaan Diri Persyaratan belajar:
Bagaimana saya dapat membantu dalam membangun harapan positif menuju kesuksesan
siswa dalam belajar matematika Kesempatan Sukses: Bagaimana pembelajaran dapat
meningkatkan keyakinan siswa terhadap kemampuan yang mereka miliki? Kontrol
Pribadi: Bagaimana siswa dapat mengetahui bahwa kesuksesan mereka atas dasar
usaha dan kemampuan yang mereka
miliki?
4
Satisfaction
Kepuasan
Penguatan Intrinsik: Bagaimana saya dapat menyediakan tempat dan kesempatan
yang berarti bagi siswa untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang
baru saja mereka peroleh? Hadiah Ekstrinsik: Hadiah apa yang saya persiapkan
untuk mempertahankan keberhasilan siswa? Persamaan: Bagaimana saya membantu
siswa di dalam mendapatkan perasaan positif terhadap pencapaian keberhasilan
mereka?
Dalam kaitannya dengan besar dan kurangnya
atau tinggi dan rendahnya motivasi belajar siswa dapat dilihat secara langsung
melalui proses kegiatan pembelajaran yang merujuk pada implementasi ARCS model.
a.
Apakah perhatian siswa kepada materi pembelajaran terfokus atau tidak?
Terpusatnya perhatian siswa kepada satu objek akan membawa dampak pada
tumbuhnya pemahaman yang mendalam terhadap materi pembelajaran yang
disampaiakan.
b.
Apakah materi pembelajaran berorientasi pada kebutuhan siswa atau tidak?
Kesesuaian antara materi pengajaran dengan tingkat kemampuan siswa akan
memberikan kemudahan bagi siswa dalam pemperoleh pengetahuan, memperbaiki
sikap, dan prilaku. c. Tumbuh
dan berkembangnya keyakinan dan kepercayaan diri siswa.
belajar ternyata dapat membawa dampak positif
terhadap peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa, dan bahkan dapat menjadi
obat yang mujarab bagi cemerlangnya kehidupan di masa yang akan datang.
d.
Menguatnya harapan positif terhadap pembelajaran
Siswa memiliki keyakinan
yang kuat terhadap pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh sehingga
dengan kemampuan itu tidak saja mampu menjadikan mahasiswa mudah memperoleh
pekerjaan tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Sementara itu, dalam diri
setiap individu terdapat tiga factor yang dapat meningkatkan kemampuan belajar.
Pertama adalah pola piker dan sikap. Kedua: adalah kemempuan kita untuk
mendayagunakan pikiran kita. Dan yang ketiga adalah disiplin
diri dan kegigihan.[15]
Jadi,
yang dimaksud dengan motivasi adalah segala bentuk dorongan baik yang berasal
dari luar (ekternal) maupun yang tumbuh dari dalam diri mahasiswa (internal)
yang mengarahkan perhatian, membangun relevansi dan kepercayaan diri, serta
menciptakan kepuasan belajar guna memperoleh pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Dengan demikian suatu ukuran tinggi rendahnya motivasi mahasiswa
dapat diukur melalui hadirnya perhatian, menguatnya relevansi, meningkatnya
kepercayaan diri, dan tumbuhnya kepuasaan yang diakibatkan oleh pengalaman belajar
dan lingkungan.[16]
MOTIVATION FOR STUDY[17]
Dispite
an earlier statement that effort alone will not lead to efficient study, you
should not minimize its importance. it is a basic requirement and one of the
most difficult to cope with marshaling one’s effort presents oblem in
motivation. From a future chapter one on learning, you will she the importance
of motivation in changing behavior. Learning will not take place unless there
is an anderling rason or motive to learn in dealing with techniques for
efficient study. We must face the learning problem. Indesd the title of this section
might well be “learning how to study”.
If
you attach your assignment in a look adoisical fashment doing little more than
siting with your book open before you in the hope that something will even
tually “sick in” you are not going to make much progress If solf analysis
reveals look of motivation. You should try to determine the couse. What are you
goals in life? Is there any relationship between the goals and what you are go
doing in scoohl? Are you attenting college simply because your parents wont you
to, or because your friend, are in collge? A carful consideration of such
quisition will usually lead to answers from wich you can plan an intelelligent
attack on your motivation problem.
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat saya ambil
kesimpulan diantaranya: hasil belajar adalah kemampuan memperoleh, memproses,
dan memproduksi pelajaran sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan. Sedangkan, Strategi belajar adalah suatu cara pembelajar “seperti:
teknik, metode, urutan kejadian, media dan peralatan lainnya” untuk memperoleh,
penyimpanan percobaan, dan pemanfaatan informasi yang didapat agar memperoleh
hasil belajar tertentu. Motivasi adalah segala bentuk dorongan baik yang
berasal dari luar (ekternal) maupun yang tumbuh dari dalam diri mahasiswa
(internal) yang mengarahkan perhatian, membangun relevansi dan kepercayaan
diri, serta menciptakan kepuasan belajar guna memperoleh pengetahuan, sikap,
dan keterampilan.
Hasil belajar bagi siswa
yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar induktif lebih
tinggi dari pada mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran melalui strategi
belajar deduktif. Hasil belajar bagi siswa yang memiliki motivasi tinggi lebih
unggul dari pada mahasiswa yang memilki motivasi rendah. Terdapat interaksi antara strategi belajar dan
motivasi belajar dalam pengaruhnya terhadap hasil belajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Abu
Ahmadi dan joko prisatyo, SBM ”Strategi Belajar Mengajar”, (Bandung, Pustaka
Setia, 1997).
Bobbi
De Porte and Mike Hiernacki, Quantum Lerning “membuat belajar yang yaman dan
menyenangkan”, (Bandung,
Kaifar, 2003).
Dimiyati
dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta, Rineka Cipta, 1997).
Gilmer,
Aplied Psycology secoun editon (by arrangement with Mc Graw-Hill in Newyork),
(TMH Edition, New Delhi, 1978).
Hamalik
Oemar, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung, Sinar Baru, 1992).
John
W. Santork, Psiklogi Pendidikan edisi dua (Versi terjemahan oleh Tri Wibowo
D.S.), (Jakarta,
Kencana, 2007).
M.
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung,
Pt Remaja Rosdakarya, 2002).
Uno
Hamzah, Teori Motivasi dan Pengaruhnya, (Jakarta,
Pt Bumi aksara, 2008).
W.S.
Winkel, Psikologi Pengajaran edisi revisi, (Jakarta, Grasindo, 1996).
file:///C:/Documents%20and%20Settings/Toshiba/Desktop/Bloom%27s%20Taxonomy.htm
|
MOTIVASI
BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah
Satu tugas pada mata kuliah
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
II
Dosen Pengampu :
Drs. Moh. Irfan Burhani, M. Psi

Disusun oleh :
Wildan A. khawasi { 9321 150 07 }
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI KEDIRI
STAIN KEDIRI
Jurusan Tarbiyah
Prodi Pendidikan Agama Islam
2009
[2]
Hamalik Oemar, Psikologi Belajar Mengajar,
(Bandung, Sinar Baru, 1992).
[3]
file:///C:/Documents%20and%20Settings/Toshiba/Desktop/Bloom%27s%20Taxonomy.htm
[4]
W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran edisi
revisi, (Jakarta, Grasindo, 1996).
[5]
Abu Ahmadi dan joko prisatyo, SBM ”Strategi
Belajar Mengajar”, (Bandung, Pustaka Setia, 1997).
[7]
Hamalik Oemar, Psikologi Belajar Mengajar,
(Bandung, Sinar Baru, 1992).
[8]
W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran edisi
revisi, (Jakarta, Grasindo, 1996).
[10]
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung, Pt Remaja
Rosdakarya, 2002).
[11]
Uno Hamzah, Teori Motivasi dan Pengaruhnya, (Jakarta, Pt Bumi aksara,
2008).
[12]
John W. Santork, Psiklogi Pendidikan edisi dua
(Versi terjemahan oleh Tri Wibowo D.S.), (Jakarta,
Kencana, 2007).
[13]
Dimiyati dan Mujiono, Belajar dan
Pembelajaran, (Jakarta, Rineka Cipta, 1997).
[14]
John W. Santork, Psiklogi Pendidikan edisi dua
(Versi terjemahan oleh Tri Wibowo D.S.), (Jakarta,
Kencana, 2007).
[15]
Bobbi De Porte and Mike Hiernacki, Quantum
Lerning “membuat belajar yang yaman dan menyenangkan”, (Bandung, Kaifar, 2003).
[16]
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung, Pt Remaja
Rosdakarya, 2002).
[17]
Gilmer, Aplied Psycology secoun editon (by
arrangement with Mc Graw-Hill in Newyork), (TMH Edition, New Delhi, 1978).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar